Senin, 22 Mei 2017

Teori Struktural dalam Karya Sastra



TEORI STRUKTURAL DALAM KARYA SASTRA
PEMBIMBING : DR. SHOIM ANWAR
TEORI SASTRA


OLEH : KELOMPOK 9 / 2016-B
1. DITA FEBRIANA PUTRI / 165200042
2. NAHDIYAN TRI YUSTIA / 165200064
3. LINGGA PERMANA ANTOKO/ 16520065
4.HALIMATUS SITI KHUMAIRO / 165200082

UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
TAHUN 2017

A.   Teori Struktural
Karya sastra disusun oleh dua unsur yang menyusunnya. Dua unsure yang dimaksud adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Berikut ini yang akan dibahas adalah intrinsik yaitu unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan suatu karya sastra, seperti :
1.      Tema
Tema ialah persoalan yang menduduki tempat utama dalam karya sastra. Tema mayor ialah tema yang sangat menonjol dan menjadi persoalan.
Tema minor ialah tema yang tidak menonjol.
2.      Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku dalam karya sastra. Dalam karya sastra biasanya ada beberapa tokoh, namun biasanya hanya ada satu tokoh utama.
Tokoh utama adalah tokoh yang sangat penting dalam mengambil peranan dalam karya sastra.
Dua jenis tokoh adalah tokoh datar dan tokoh bulat.
Tokoh datar adalah tokoh yang hanya menunjukkan satu segi, misalnya baik saja atau buruk saja.
Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya.
      Penokohan atau perwatakan adalah teknik atau cara-cara menampilkan tokoh
3.      Latar/Setting
Latar/Setting merupakan penggambaran mengenai waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita.Tokoh-tokoh dalam cerita hidup pada tempat dan waktu (masa) tertentu. Oleh karena itu peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokoh cerita terjadi pada waktu dan tempat tertentu pula.
a. Latar Waktu
Latar waktu adalah waktu/masa tertentu ketika peristiwa dalam cerita itu terjadi.
b. Latar Tempat
Latar tempat adalah  lokasi/bangunan fisik lain yang menjadi tempat terjadinya  peristiwa-peristiwa dalam cerita.

c. LatarSuasana

Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita. Suatu cerita menjadi menarik karena berlangsung dalam suasana tertentu, misalnya suasana gembira, haru, sedih, dan tegang. Suasana dalam cerita biasanya dibangun bersama pelukisan tokoh utama.
4.      Alur
Alur disebut juga dengan plot, yaitu rangkaian peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat, sehingga menjadi satu kesatuan yang padu bulat dan utuh.
5.      Majas/Gaya Bahasa
Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang. Majas dibagi menjadi beberapa macam, yakni majas perbandingan, majas sindiran, majas penegasan, dan majas pertentangan.
6.      Sudut Pandang
Sudut pandang merupakan cara penulis untuk menempatkan dirinya dalam cerita. Sudut pandang terbagi menjadi dua, sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.
7.      Amanat
Amanat ialah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra.
B.   Analisis  struktur intrinsik dalam sebuah Cerpen “PestaKeluarga” karya M. Shoim Anwar
1.      Tema :
Kesengsaraan keluarga karena kecerobohan kepala keluarga.
2.      Tokoh dan Watak
a.       Aku (Pak Rais) :
-          Labil “Tolong ada yang dibuat empal” (Anwar, 2017:101)
-          Bertanggung jawab “Aku tetap mempertahankan daging itu” (Anwar, 2017:100)
b.      Penumpang tua : Banyak bicara “Ya tinggal orang tua kayak saya ini yang naik bemo” (Anwar, 2017:98)
c.       Istri Pak Rais :
-          Tergesa-gesa dan Serakah “Dari pada busuk dan dibuang, kan lebih baik dimasak” (Anwar, 2017:101)
d.      Neti : Kurang bersyukur “Moga-moga besok ada daging tertinggal lagi” (Anwar, 2017:104)
e.       Andi :Kurang bersyukur “Nanti aku makan lagi” (Anwar, 2017:104)
f.       Rudi :Kurang bersyukur “Mulut Rudi terlihat penuh, tangan kiri memegang tiga tusuk sate, meski begitu matanya masih jelalatan mengawasi gulai di mangkuk” (Anwar, 2017:103)
g. Pardi :
- Sombong “Kalau tidak berani aku saja yang bawa” (Anwar, 2017:100)
                  “Nanti kalau orang nyatanya, aku yang maju” (Anwar, 2017:100)
h. Markasan :Selalu ingin tahu “ Matang apa mentah?” (Anwar, 2017:100)
i. Hadi : Bijak “Begini saja, kita bagi rata” (Anwar, 2017:100)
j. Bagio : Suka bercanda “Daging istri Hadi sudah kisut” (Anwar, 2017:100)
k. Mahasiswa Kedokteran :
-          Sopan “Sang tamu berbaju putih-putih itu mulai duduk dengan sopan” (Anwar, 2017:104)
-          Ramah “Maaf say mengganggu” (Anwar, 2017:104)
-          Tanggung jawab “Maaf pak, barangnya tidak berharga, tapi sangat kami perlukan” (Anwar, 2017:105)
-          Lalai “Barang dalam tas plastik warna putih, hasil operasi dari semua penyakit, apa tertinggal di bemo bapak?” (Anwar, 2017:105)
3.      Latar
a. Tempat:
- Di dalam angkot “Penumpang bemo tambah sepi, ini adalah bemo setoran”
(Anwar, 2017:98)
- Stasiun Tandes “Bemo yang aku kemudikan akhirnyas ampai di dekat stasiun” (Anwar, 2017:99)
- Rumah Pak Rais “Aku mempersilahkan sang tamu” (Anwar, 2017:104)
- Pangkalan angkot:
“Tanyaku pada teman-teman sopir di pangkalan” (Anwar, 2017:100)
“Padahal aku sudah melewati rute dan mangkal di tempat yang sama” (Anwar, 2017:100)
b. Waktu  :
- Pagi hari “Pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo adalah jam mati”
 (Anwar, 2017:97)
- Siang hari “Tambah siang udara makin panas dan berdebu”
 (Anwar, 2017:98)
- Sore hari “Sore itu, tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal”
(Anwar, 2017:103)
c. Suasana :
- Sunyi “Sepi, katanya” (Anwar, 2017:97)
- Bahagia “Matanya berbinar-binar sambil manggut-manggut”  (Anwar, 2017:103)
- Tegang “Bukan daging, Pak. Itu tumor yang telah kami ambil” (Anwar, 2017:105)
- Kacau “Terlihat istri dan ketiga anakku muntah-muntah dengan wajah merah padam” (Anwar, 2017:105)
4.      Alur: Maju mundur
Maju“Ini berarti aku harus menjalankan terus bemo ini” (Anwar, 2017:98)
Mundur “Sekarang mereka kembali susah, harta yang dulu dikumpulkan habis sedikit demi sedikit untuk menyambung hidup” (Anwar, 2017:98)
Tahap Perkenalan
-          “Pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo atau mikrolet adalah jam mati. Penumpang sudah mulai sepi…Jalanan sudah mulai agak sepi. (Anwar, 2017:97)
Tahap Konflik
-          “Bu, barangnya ketinggalan!” Aku memanggilnya agak keras.” (Anwar, 2017:99)
Tahap Klimaks
-          “…Kami adalah mahasiswa kedokteran, sudah dua minggu kami ikut praktik… tapi bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo, bapak?”…Eee daging?  “bukan daging, pak. Itu adalah tumor yang telah kami ambil.” (Anwar, 2017:105)



Tahap Penyelesaian
-          “Hueekkk!” isi perutku pun menyembul keluar”
“Kami sekeluarga muntah bersamaan. Rasanya tak bisa berhenti. Semua isi perut memberontak keluar.” (Anwar, 2017:106)
5.      Majas/Gaya Bahasa
-          Personifikasi
“Kipas-kipas mengusir udara panas dan debu kemarau” (Anwar, 2017:97)
“Angin masuk lewat pintu depan” (Anwar, 2017:101)
“Daun pintu menggebrak karena disapu angin dari luar” (Anwar, 2017:102)
“Jarinya meloncat-loncat secara bergantian” (Anwar, 2017:103)
“Denting piring terdengar saat bersentuhan dengan senduk dan garpu” (Anwar, 2017:104)
“Perutku menyentak-nyentak” (Anwar, 2017:105)
“Semua isi perut memberontak keluar” (Anwar, 2017:106)
-          Satire
“Daging istri Hadi sudah kisut” (Anwar, 2017:100)
-          Hiperbola
“Aku menerawang kelangit-langit” (Anwar, 2017:101)
“Cairan warna kuning kecoklatan itu meluber di meja dan bercecerankelantai”
(Anwar, 2017:106)
“Cepat dia menahan perutnya kemudian muntah kembali lebih keras, terlihat dia oleng” (Anwar, 2017:106)
“Perutku terus mual dan mau ambrol” (Anwar, 2017:106)
-          Aliterasi
“Mulut-mulut terus bergerak” (Anwar, 2017:104)
“Cepat-cepat aku mengusap mulut” (Anwar, 2017:104)
“Cepat-cepat dia menahan perutnya” (Anwar, 2017:106)
“Pening-pening tak henti menyerang kepala” (Anwar, 2017:106)
6.      Sudutpandang : Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama
“Aku tetap mempertahankan daging itu” (Anwar, 2017:100)
“Aku duduk selonjor di kursi panjang sambil menyandarkan kepala ke dinding” (Anwar, 2017:101)
7.      Amanat
-          Teguhlah pada pendirian
-          Jangan mengambil hak orang lain


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:CVPustakaIlalang
      Rahmawati, Fitri. 2010. Sastra Indonesia. Jakarta Timur:LaskarAksara.
      Agem, Putu. 2014. Sudut Pandang Beserta Contohnya. Dalam http://putuagem.blogspot.co.id/2014/02/sudut-pandang-beserta-contohnya.html (2014)
Sugiana, Yodi. 2016. Pengertian Latar, Setting, dan Jenisnya. Dalam http://www.sridianti.com/pengertian-latar-setting-dan-jenisnya.html (2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar