FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)
Mata Kuliah : Teori Sastra
SKS :
3
Angkatan : 2016 kelas B
Nama :
Nahdiyan Tri Yustia
NIM :
165200064
Prodi / Angkatan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia / 2016 kelas B
Alamat blog :
https://serigalaputihaudian.blogspot.com/
Soal:
1.
Berdasarkan
teori, puisi memiliki lapis makna (the unit of meaning), yaitu subject matter,
feeling, tone, total of meaning, dan theme. Jelaskan pengertian masing-masing!
2.
Analisislah
puisi-puisi berikut berdasarkan unsur lapis maknanya!
MALAM ITU
Malam itu aku seperti tercampakkan
Bagai tebu habis disesap dahaga waktu
Ruang menghampa
Sendiri kian menganga
Tak terkira
Di manakah dengus yang mendetakkan
gairah
Sedang aromamu berseliweran menguntit
raga
Kueja detak yang merangkak
Bosan berselimut kelam
Adakah peri mengirim isyarat di sunyi
Sedang kepergianmu menebus rindu
Yang tak kutahu
Ingin kutinggal gelanggang
Menggelandang ke ketiak senyap
Ku tawar-tawar rasa
Muntah kujilat kembali di lidah
Ah tak sanggup aku rupanya
(M. Shoim Anwar,
Januari 2015)
RAMBUTMU
Gelombang mengalir di rambutmu
Basah di pagi itu
Memerah tanpa pewarna
Kukeringkan dengan panas darahku
Sebab padamu telah kueja sejarah
Yang terpendam dalam larutan
Di luar lurus lapang
Di dalam meliuk kau sembunyikan
Biarkanlah apa adanya
Rumputan menjalar indah dipandang
Telah kutemukan cermin hidupku
Pada rambutmu
Saat kujamah di pagi yang basah
(M. Shoim Anwar,
Januari 2015)
MENDUNG BERDURI
Balasanmu pendek sekali
Seperti pelepah pisang yang diranjang
celurit cemburu
Patahannya menyisakan amis di dada
Mengapa percik getahnya menyiprat ke
ladang
Yang kutanam dengan cinta
Cuaca sepanjang hari mengirim mendung
berduri
Adakah aku harus berlari
Meninggalkan jejak yang terlanjur
mengurai sepi
Pada jemarimu telah kutulis sekuntum
puisi
Sementara sayap-sayap mawar yang gugur
minta kuganti biji esok hari
Tapi kilatan-kilatan celuritmu menuding
ke dahi
Tanpa kumengerti
(M. Shoim Anwar,
Januari 2015)
3.
Buatlah
sebuah esai (analisis) untuk cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah)
berdasarkan teori sastra poskolonial!
Jawaban!
1. Subject
matter adalah pokok pikiran yang di kemukakan penyair lewat puisi yang di
ciptakannya. Subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran
tertentu yang secara khusus membangun sesuaatu yang di ungkapkan penyair.
Feeling adalah sikap penyair
terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. Hal itu mungkin saja terkandung
dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi
karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu manusia pada umumnya juga di
latar belakangi oleh sikap tertentu pula.
Tone adalah sikap penyair
terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang di tampilkannya.
Total of meaning adalah
keseluruhan makna yang terdapat dalam suatu puisi. Penentuan totalitas makna
puisi didasarkan atas pokok pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap
penyair di dalam pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca.
Theme adalah ide dasar dari
suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi.
2. Analisis
puisi yang berjudul “Malam Itu”
Dalam hal sense, secara
hipotesis dapat ditetapkkan bahwa lewat puisi “malam itu” penyair menggambarkan
seseorang yang sedang sendiri ditinggalkan sang kekasih yang tidak tahu kemana
perginya dan pada malam itu seseorag telah diselimuti oleh rindu dan dia tidak
sanggup menahan kerinduan tersebut. Untuk membuktikan kebenaran gambaran makna
judul maupun gambaran makna secara umum, jalan pertama yang ditempuh adalah
mengategorikan kata-kata termasuk kategori lambang dan kata-kata yang termasuk
kategori symbol. Dalam puisi malam
itu yang termasuk
lambang adalah kata-kata mengirim, kepergianmu, dimanakah, kutinggal. Sedangkan
kata-kata yang bersifat simbolik adalah kata-kata tebu, ruang, dengus, detak,
gelanggang, ketiak.
Selanjutnya membahas makna setiap
lariknya. Larik pertama yang berbunyi Malam itu aku seperti tercampakkan. Larik
kedua yang berbunyi Bagai tebu habis disesap dahaga waktu. Bila dihubungkan
dengan proyeksi makna kata tercampakkan diatas dapat disimpulkan seseorang
tersebut sedang mengalami kesedihan, kesepian, tidak ada orang yang mengerti
dia. Dari telaah diatas, semakin jelas bagaimana hubungan antara baris satu
dengan baris lainnya. Selanjutnya melihat satuan-satuan pokok pikiran dalam
paragraf-paragraf yang telah dibuat sehingga dapat disimpulkan bahwa puisi
tersebut terdapat 3 pokok pikiran, yaitu: malam yang sunyi dan hampa aku
tercampakkan, rasa bosan yang berselimut kelam, dan kerinduan akan kepergian
sang kekasih.
Selanjutnya analisis sikap penyair puisi
malam itu yaitu ia mengungkapkan bahwa dalam situasi demikian tidak ada jalan
lain kecuali meratapi kesedihannya. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui
bahwa dalam menampilkan pokok-pokok pikirannya, penyair memiliki satu sikap,
yakni berserah terhadap apa yang terjadi.
Sikap penyair terhadap pembaca akan
menunjukan adanya sikap yang bermacam-macam. Mungkin pembaca akan larut dalam
kesedihan penyair, pembaca meratapi betapa berat hidup penyair yang
tercampakkan.
Dari keseluruhan totalitas makna yang
terdapat dalam puisi berjudul “malam itu”, dapat dikatakan bahwa tema dalam
puisi tersebut adalah kesedihan, kesunyian dalam diri akibat rasa rindu yang
tak tersampaikan dan tak tertahankan.
Analisis puisi
yang berjudul “Rambutmu”
Dalam hal sense, secara
hipotesis dapat ditetapkkan bahwa lewat puisi “Rambutmu” penyair menggambarkan
keindahan rambut yang bergelombang, cerminan hidup pada rambut yang indah.Selanjutnya
membahas makna setiap lariknya. Larik pertama yang berbunyi Gelombang mengalir
di rambutmu. Larik kedua yang berbunyi basah di pagi itu. Bila dihubungkan
dengan proyeksi makna kalimat Gelombang mengalir di rambutmu diatas dapat disimpulkan seseorang tengah
memuji wanita pujaannya. Dari telaah diatas, semakin jelas bagaimana hubungan
antara baris satu dengan baris lainnya. Selanjutnya melihat satuan-satuan pokok
pikiran dalam paragraf-paragraf yang telah dibuat sehingga dapat disimpulkan
bahwa puisi tersebut terdapat pokok pikiran, yaitu: terkesima akan keindahan
rambut dan cerminan hidup terdapat pada rambut yang indah.
Selanjutnya analisis sikap penyair puisi
rambutmu yaitu ia mengungkapkan bahwa ia mengagumi keindahan rambut seseorang
yang telah disembunyikan oleh seseorang tersebut. Dari pernyataan tersebut
dapat diketahui bahwa dalam menampilkan pokok-pokok pikirannya, penyair
memiliki satu sikap, yakni memuji wanita yang memiliki rambut indah tersebut.
Sikap penyair terhadap pembaca akan
menunjukan adanya sikap yang bermacam-macam. Mungkin pembaca akan larut dalam
kebahagiaan penyair. Dari keseluruhan totalitas makna yang terdapat dalam puisi
berjudul “Rambutmu” dapat dikatakan bahwa tema dalam puisi tersebut keindahan
rambut yang tersembunyikan.
Analisis puisi
yang berjudul “Mendung berduri”
Dalam hal sense, secara
hipotesis dapat ditetapkkan bahwa lewat puisi “Mendung berduri” penyair
menggambarkan balasan singkat dari orang yang ia cintai.
Selanjutnya membahas makna
setiap lariknya. Larik pertama yang berbunyi Balasanmu pendek sekali. Larik
kedua yang berbunyi Seperti pelepah pisang yang diranjang celurit cemburu. Bila
dihubungkan dengan proyeksi makna kalimat Balasanmu pendek sekali diatas dapat
disimpulkan seseorang tengah membaca balasan yang singkat dari orang lain. Dari
telaah diatas, semakin jelas bagaimana hubungan antara baris satu dengan baris
lainnya. Selanjutnya melihat satuan-satuan pokok pikiran dalam
paragraf-paragraf yang telah dibuat sehingga dapat disimpulkan bahwa puisi
tersebut terdapat pokok pikiran, yaitu: kesedihan akan sikap dari orang yang
dicintainya.
Selanjutnya
analisis sikap penyair puisi mendung berduri yaitu ia mengungkapkan bahwa ia
tengah sedih akan balasan yang pendek sekali dari orang yang ia cintai. Dari
pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa dalam menampilkan pokok-pokok
pikirannya, penyair memiliki satu sikap, yakni sedih dan kecewa akan sikap dari
orang yang ia cintai.
Sikap penyair terhadap pembaca akan
menunjukan adanya sikap yang bermacam-macam. Mungkin pembaca akan larut dalam
kesedihan dan kekecewaan penyair. Dari keseluruhan totalitas makna yang
terdapat dalam puisi berjudul “mendung berduri” dapat dikatakan bahwa tema
dalam puisi tersebut kekecewaan akan balasan singkat dari seseorang yang
dicintai.
3.
Esai
(analisis) untuk cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah)
berdasarkan teori sastra poskolonial.
Secara umum
postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk
memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium
kolonialisme modern. Oleh sebab itu, Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya,
Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008:81—82) mengemukakan lima
pokok pengertian postkolonial, yaitu (1) menaruh perhatian untuk menganalisis
era kolonial, (2) memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, (3) memperjuangkan
narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar dari masa
lampau untuk menuju masa depan, (4) membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan
bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis, dan (5) bukan
semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan,
seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk
hegemoni lainnya.
Analisis wacana poskolonial bisa digunakan di satu pihak
untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan
sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja. Cerpen berjudul
“Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M. Shoim Anwar bercerita tentang realita
kehidupan yang dialami warga bukan sebuah mitos tapi benar-benar terjadi dan
itu nyata. Terdapat lumpur panas yang menyembur dari lubang pengeboran yang
menggerus bagian bawah tanggul. Dalam waktu yang sangat cepat, tanggul demi
tanggul ambrol diterjang lumpur panas, desa demi desa dilalap satu demi satu,
dan korban terus berjatuhan.
Cerpen berjudul
“Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M.Shoim Anwar telah mengingatkan kita
bahwasanya bencana alam bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Lumpur panas
dalam cerpen ini diibaratkan sebagai sang raksasa yang memangsa
korban-korbannya, dan yang terjadi merupakan realita sebenarnya apabila
terdapat bencana alam. Warga di desa itu tidak bisa berbuat apa-apa selain
berada di tempat pengungsian, karena pada saat itu yang berkuasa adalah lumpur
panas atau diibaratkan sang raksasa. Warga memperoleh haknya untuk mengungsi di
pengungsian karena rumah-rumah sudah banyak yang dilahap oleh sang raksasa.
Mas win sebagai
suami Timas dan Ayah dari saipul hanya bisa menceritakan kejadian yang
dialaminya, tanpa bisa berbuat apa-apa, disini mas win sebagai orang yang
terjajah akan keadaan, ia bingung harus melakukan apa untuk menolong istri dan
kawan-kawannya.
Teori
poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya
sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan
beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, bahasa dan sastra,
sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan,
pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang
lain. Dalam hal ini penulis akan melakukan penganalisisan berdasarkan
pendekatan poskolonialisme, diantaranya: hegemoni kuasa, mimikri, oposisi biner,
orientalisme, diapora, dan teori atau kritik feminisme.
Pada cerpen berjudul “Dalam Kejaran Sang
Raksasa” karya M. Shoim Anwar, hegemoni
kuasa merupakan suatu bentuk kekaisaran yang mengendalikan seseorang dengan
kekuasaan yang dapat memaksakan tujuannya. Dalam hal ini sang raksasa melahap,
membunuh warga-warga dengan cara yang sadis, menghancurkan sumber kehidupan warga.
Seperti terdapat pada kutipan:
“Nasib Marsinah berakhir dengan tragis
sebelum perjuangannya tercapai secara merata. Dia dijegal di Tugu Kuning saat
pulang bersama Timas. Marsinah berteriak minta tolong. Timas tak kuasa karena
sang raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh oleh sang raksasa itu.
Kami merasa terpukul. Kami merasa kehilangan.”
“Habis sudah sumber kehidupan
kami. Harta benda yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit bersama Timas
telah hancur di dasar lumpur. Kami terusir ke barak pengungsian.”
Alat
produksi di tempat Mas Win, Timas, Marsinah bekerja diasuransikan, tapi
buruhnya tidak. Disini alat produksi berkuasa dan telah menjajah manusia atau
pekerjanya. Karena yang lebih dihargai dalam bekerja adalah alat produksinya
bukan manusianya. Seperti terdapat pada kutipan:
“Semua alat pabrik disini diasuransikan,
tapi buruhnya tidak. Berarti alat lebih dihargai daripada manusia. Itulah
sebabnya kita minta nasib buruh diperbaiki. Dan itu harus disuarakan.”
Pada
cerpen ini juga terdapat dua biner yaitu penjajah dan dijajah, mengkaji pertentangan antara yang kuat dan lemah, yaitu sang
raksasa dan para warga. Dijelaskan bahwa penjajah terdapat pada sang raksasa
dan yang dijajah adalah warga desa, terbukti dari kutipan yang ada bahwa warga
desa harus rela kehilangan desa dan tempat tinggalnya.
“Seluruh kampung dan isinya telah menjadi
fosil. Sedangkan para penghuninya terpuruk dalam pengungsian dengan nasib tak
menetu. Tangis dan air mata telah menggumpal beku.”
Dalam cerpen ini
terdapat beberapa hal masih menggunakan cara mimikri.
Mimikri bahasa
yang dialami tokoh dalam Cerpen berjudul “Dalam Kejaran Sang Raksasa” adalah
tokoh Saipul yang menggunakan bahasa Jawa dalam memanggil ayah dan ibunya. Hal
ini terlihat dalam kutipan berikut.
“Kapan Emak
pulang, Bapak? Tanya saipul disebelahku”
Mimikri bahasa
yang digunakan dalam cerpen ini juga menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini
terlihat dalam kutipan berikut.
“Dari atas
tanggul, lumpur itu tampak menghampar luas. Seperti danau timah yang pekat dan
panas. Beberapa ujung batang pohon yang tersisa kelihatan seperti cakar-cakar
kering yang menjerit. Ribuan bangunan sudah tenggelam. Tinggal kerangka
satu-dua atap yang tersisa.”
Mimikri
identitas yang digunakan adalah identitas penataan rumah. Mas win sebagai
tumpuhan keluarga menharapkan rumah yang layak untuk ditempati bersama dengan keluarganya,
ia bekerja mengumpulkan uang demi merenovasi rumah agar layak ditempati.
Berikut kutipan
yang menggambarkan pernyataan tersebut.
“Aku menjadi
tumpuhan harapan keluarga. Rumah masih reyot, mirip kandang sapi, menunggu kami
membangunnya hingga menjadi bangunan tembok yang kokoh. Setiap pulang ibu pasti
membicarakan soal rumah kami yang jauh tertinggaldengan tetangganya.”
Menurut
Said, orientalisme pada awalnya muncul dalam kristianitas sebagai konsep pentin
misionaris dan control mereka pada yang lain melalui pengetahuan. Suatu
discoursus dimana konsep kepentingan, kekuasaan dengan pengetahun melebur,
pandangan ini akhirnya meruntuhkan konsep epistimologi pondasional (positipis)
terutama tentang ilmu bebas nilai.
Orientalisme
merupakan suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang
khusus dalam pengalaman manusia Barat. Timur sebagai tempat-tempat koloni Eropa
yang terbesar, terjaya, dan tertua, sumber peradaban, sebagai salah satu
imajinasinya yang paling dalam dan paling sering muncul tentang “dunia yang
lain” menurut Said (dalam Yasa, 2012:236).
Dalam Cerpen
berjudul “Dalam Kejaran Sang Raksasa” mas win sebagai suami Timas dikategorikan
pria yang miskin yang menjadi tulang punggung keluarga sedangkan Timas istrinya
anak tunggal dari keluarga yang berada. Mereka berdua bisa bersatu karena salah
satu faktornya mas win melakukan cara untuk memahami atau menyesuaikan diri
dengan keadaan Timas dan keluarganya yang berada.
Ashcroft
menyatakan bahwa ambivalensi diadaptasi dari teori wacana diskursus kolonial
Homi Bhabha yang mendeskripsikan kompleksitas perpaduan antara penerimaan dan
penolakan yang mencirikan hubungan antara penjajah dan terjajah. Relasi yang
ambivalen muncul disebabkan oleh perilaku subjek kolonial yang bukan hanya dan
secara lengkap menentang kolonial. Subjek kolonial di satu sisi menerima
kekuasaan tetapi di sisi lain mereka melawan (dalam Yasa, 2012: 230).
Konsep
ambivalensi dalam cerpen
“Dalam Kejaran Sang Raksasa” terdapat pada tokoh mas win yang awalnya dekat
dengan Lusi tetapi tidak terlibat hubungan asmara dengannya kemudian menerima
kekuasaan dari Marsinah atas perjodohannya dengan Timas.
Salah satu penemuan penting dari studi
wacana kolonial adalah diaspora. Istilah diaspora merupakan istilah lain dari
perpindahan. Perpindahan yang terdapat dalam cerpen “Dalam Kejaran Sang
Raksasa” yaitu perpindahan tempat yang dialami para warga dari tempat
tinggalnya (rumah) ke tempat pengungsian akibat terjadinya penjajahan.
Perpindahan tersebut tidak semata-mata dilakukan, terdapat relasi kuasa yang
terjadi. Pemegang kuasa dalam hal ini adalah sang raksasa, karena sang raksasa
sudah melahap habis desa tempat tinggal para warga. Seperti terdapat pada
kutipan:
“Sedangkan para
penghuni lainnya kini terpuruk dalam pengungsian dengan nasib tak menentu.”
Teori atau kritik feminisme merupakan bagian dari poskolonial ketika laki-laki dipandang sebagai
“penjajah” terhadap perempuan, Disini
Lusi terjajah oleh laki-laki yang dekat dengannya tetapi saat Lusi mengalami masalah
dalam dirinya laki-laki tersebut meninggalkannya. Seperti pada kutipan berikut:
“Aku dapat kabar tiga jari kanan lusi
putus terkena mesin pemotong. Kabar rencana perkawinannya juga menjadi tidak
jelas karena sang pacar berpaling ke perempuan lain.”
Daftar
Pustaka
Anwar,
Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri
Pak Lurah. Lamongan:CV Pustaka Ilalang
Lingua.
2015.
TEORI POSKOLONIAL EDWARD W. SAID
(diakses tanggal
21 Juli 2017)
Anna. 2013. Teori Sastra Analisis Poskolonial. http://anna-a-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-81351-Teori%20Sastra%20II-ANALISIS%20POSTKOLONIAL.html (diakses tanggal 21 Juli 2017)