HAKIKAT DAN METODE PUISI
PEMBIMBING : DR. SHOIM ANWAR
TEORI SASTRA
OLEH : KELOMPOK 9 / 2016-B
1. DITA FEBRIANA PUTRI / 165200042
2. NAHDIYAN TRI YUSTIA / 165200064
3. LINGGA PERMANA ANTOKO/ 16520065
4. HALIMATUS SITI KHUMAIRO / 165200082
UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
TAHUN 2017
PUISI
A. Definisi Puisi
Puisi merupakan salah satu karya
sastra selain prosa dan drama. puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat,
dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias.
B.
UnsurPembentukPuisi
Puisi
dibentuk oleh beberapa unsur pendukung. unsur tersebut berupa hakikat puisi dan
struktur puisi.
HAKIKAT
PUISI
Puisi pada hakikatnya
adalah satu pernyataan perasaan dan pandangan hidup seorang penyair yang memandang sesuatu peristiwa alam
dengan ketajaman perasaannya. Perasaan yang tajam inilah yang menggetar rasa
hatinya, yang menimbulkan semacam gerak dalam daya rasanya. Lalu ketajaman tanggapan
ini berpadu dengan sikap hidupnya mengalir melalui bahasa, menjadi lahia sebuah
puisi, satu pengucapan seorang penyair.
Hakikat puisi disebut juga isi
puisi. hakikat puisi terdiri atas tema, rasa, nada, dan amanat.
a.
Tema
Tema adalah gagasan pokok
yang dikemukakan oleh penyair melalui puisi. Gagasan pokok tersebut menjadi landasan
utama penyair dalam mengungkapkan isi puisi. Tema yang terdapat dalam puisi di
antaranya temaketuhanan (religius), kemanusiaan, cinta, patriotisme,
perjuangan, kegagalan hidup, alam, keadilansosial, demokrasi, kekuasaan,
kesedihan, kerinduan, politik, pendidikian, budi pekerti, dan perpisahan.
b.
Perasaan
suasana perasaan penyair diekspresikan
dan mampu dihayati pembaca. perasaan penyair dapat berupa sikap, pandangan, perbuatan,
atau watak khusus.
c.
Nada
Penyair mempunyai sikap tertentu
terhadap pembaca. Sikap penyair terhadap pembaca tersebut diungkapkan dalam
nada. dari sikap itulah tercipta suasana puisi. sebuah puisi dapat bernada sinis,
protes, menggurui, memberontak, main-main, bercanda, serius, patriotik, belas kasih,
dendam, membentak, memelas, takut, merendahkan, menyanjung, khusyuk,
kharismatik, kagum, filosofis, mengejek, meremehkan, menghasut, menghimbau.
d.
Amanat
Amanat, atau pesan, nasihat merupakan
kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Amanat ditentukan sendiri oleh
pembaca berdasarkan cara pandang pembaca terhadap sesuatu.
METODE PUISI
Puisi
merupakan hasil kepaduan beberapa unsur penyusun yang membuat karya tersebut disebut
puisi. MenurutWaluyo (1991:4) puisi dibangun oleh dua unsur pokok yaitu:
struktur fisik yang berupa bahasa, dan struktur batin atau struktur makna.
Struktur fisik puisi atau struktur
kebahasaan puisi disebut juga metode puisi. Medium pengucapan maksud yang
hendak disampaikan penyair adalah bahasa.
Struktur Fisik Puisi
Adapun
struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.
(1) Perwajahan
puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi
kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak
selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal
tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi,
yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Kata-kata
dalam puisi bersifat konotasi dan puitis. konotasi berarti memliki kemungkinan
makna lebih dari satu. puitis berarti mempunyai efek keindahan dan berbeda-beda
dari kiata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit
kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih
secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna,
keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69)
menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu
penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis,
penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa
tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan
kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3) Imaji,
yaitu Pengimajinasian adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat
memperjelas apa yang dinyatakan oleh penyair. melalui pengimajian apa yang
digambarkan seolah-olah dapat dilihat, didengar, atau dirasa atau kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan
pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat
dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual),
dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca
seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4) Kata
kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan
munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal
kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll.,
sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup,
bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa
figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan
menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif
menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya
akan makna. Bahasa
figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora,
simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora,
pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto,
totem pro parte, hingga paradoks.
(6) Versifikasi,
yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada
puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope
(tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi
Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan
akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi
bunyi [kata], dan sebagainya serta (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma
merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat
menonjol dalam pembacaan puisi.
DAFTAR PUSTAKA
Unni, Anni. 2012.
Hakikat-dan-metode-puisi.html. Dalam http://anniunni.blogspot.co.id/2012/08/hakikat-dan-metode-puisi.html (2012)
Geoffrey (Waluyo,
19987:68-69) dalam https://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya/html
(2008)
Soedjito, 1986:128 dalam
https://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya/html
(2008)
Aqiel, Rick. 2012. Hakikat-puisi.html dalamhttp://puisirickaqiel23.blogspot.co.id/2012/11/hakikat-puisi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar