Senin, 22 Mei 2017

HAKIKAT DAN METODE PUISI



HAKIKAT DAN METODE PUISI
PEMBIMBING : DR. SHOIM ANWAR
TEORI SASTRA

 
OLEH : KELOMPOK 9 / 2016-B
1. DITA FEBRIANA PUTRI / 165200042
2. NAHDIYAN TRI YUSTIA / 165200064
3. LINGGA PERMANA ANTOKO/ 16520065
4. HALIMATUS SITI KHUMAIRO / 165200082

UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
TAHUN 2017

PUISI
A. Definisi Puisi
Puisi merupakan salah satu karya sastra selain prosa dan drama. puisi adalah karya sastra yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias. 
B. UnsurPembentukPuisi
Puisi dibentuk oleh beberapa unsur pendukung. unsur tersebut berupa hakikat puisi dan struktur puisi.

HAKIKAT PUISI
Puisi pada hakikatnya adalah satu pernyataan perasaan dan pandangan hidup seorang  penyair yang memandang sesuatu peristiwa alam dengan ketajaman perasaannya. Perasaan yang tajam inilah yang menggetar rasa hatinya, yang menimbulkan semacam gerak dalam daya rasanya. Lalu ketajaman tanggapan ini berpadu dengan sikap hidupnya mengalir melalui bahasa, menjadi lahia sebuah puisi, satu pengucapan seorang  penyair.
Hakikat puisi disebut juga isi puisi. hakikat puisi terdiri atas tema, rasa, nada, dan amanat.
a.       Tema
Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair melalui puisi. Gagasan pokok tersebut menjadi landasan utama penyair dalam mengungkapkan isi puisi. Tema yang terdapat dalam puisi di antaranya temaketuhanan (religius), kemanusiaan, cinta, patriotisme, perjuangan, kegagalan hidup, alam, keadilansosial, demokrasi, kekuasaan, kesedihan, kerinduan, politik, pendidikian, budi pekerti, dan perpisahan.
b.      Perasaan
suasana perasaan penyair diekspresikan dan mampu dihayati pembaca. perasaan penyair dapat berupa sikap, pandangan, perbuatan, atau watak khusus. 
c.       Nada
Penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca. Sikap penyair terhadap pembaca tersebut diungkapkan dalam nada. dari sikap itulah tercipta suasana puisi. sebuah puisi dapat bernada sinis, protes, menggurui, memberontak, main-main, bercanda, serius, patriotik, belas kasih, dendam, membentak, memelas, takut, merendahkan, menyanjung, khusyuk, kharismatik, kagum, filosofis, mengejek, meremehkan, menghasut, menghimbau.


d.      Amanat
Amanat, atau pesan, nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. Amanat ditentukan sendiri oleh pembaca berdasarkan cara pandang pembaca terhadap sesuatu. 

 METODE PUISI
Puisi merupakan hasil kepaduan beberapa unsur penyusun yang membuat karya tersebut disebut puisi. MenurutWaluyo (1991:4) puisi dibangun oleh dua unsur pokok yaitu: struktur fisik yang berupa bahasa, dan struktur batin atau struktur makna.
Struktur fisik puisi atau struktur kebahasaan puisi disebut juga metode puisi. Medium pengucapan maksud yang hendak disampaikan penyair adalah bahasa.
Struktur Fisik Puisi
Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut.
(1)   Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2)   Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Kata-kata dalam puisi bersifat konotasi dan puitis. konotasi berarti memliki kemungkinan makna lebih dari satu. puitis berarti mempunyai efek keindahan dan berbeda-beda dari kiata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3)   Imaji, yaitu Pengimajinasian adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas apa yang dinyatakan oleh penyair. melalui pengimajian apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat, didengar, atau dirasa atau kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4)   Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5)   Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6)   Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya serta (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.












DAFTAR PUSTAKA
Unni, Anni. 2012. Hakikat-dan-metode-puisi.html. Dalam  http://anniunni.blogspot.co.id/2012/08/hakikat-dan-metode-puisi.html (2012)
Aqiel, Rick. 2012. Hakikat-puisi.html dalamhttp://puisirickaqiel23.blogspot.co.id/2012/11/hakikat-puisi.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar