Senin, 24 Juli 2017

Teori Sastra UAS

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA


UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)


Mata Kuliah          : Teori Sastra
SKS                       : 3
Angkatan              : 2016 kelas B


Nama                     : Nahdiyan Tri Yustia
NIM                      : 165200064
Prodi / Angkatan   : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia / 2016 kelas B
Alamat blog          : https://serigalaputihaudian.blogspot.com/


Soal:
1.      Berdasarkan teori, puisi memiliki lapis makna (the unit of meaning), yaitu subject matter, feeling, tone, total of meaning, dan theme. Jelaskan pengertian masing-masing!
2.      Analisislah puisi-puisi berikut berdasarkan unsur lapis maknanya!

MALAM ITU
Malam itu aku seperti tercampakkan
Bagai tebu habis disesap dahaga waktu
Ruang menghampa
Sendiri kian menganga
Tak terkira
Di manakah dengus yang mendetakkan gairah
Sedang aromamu berseliweran menguntit raga
Kueja detak yang merangkak
Bosan berselimut kelam
Adakah peri mengirim isyarat di sunyi
Sedang kepergianmu menebus rindu
Yang tak kutahu
Ingin kutinggal gelanggang
Menggelandang ke ketiak senyap
Ku tawar-tawar rasa
Muntah kujilat kembali di lidah
Ah tak sanggup aku rupanya


(M. Shoim Anwar, Januari 2015)


RAMBUTMU
Gelombang mengalir di rambutmu
Basah di pagi itu
Memerah tanpa pewarna
Kukeringkan dengan panas darahku
Sebab padamu telah kueja sejarah
Yang terpendam dalam larutan
Di luar lurus lapang
Di dalam meliuk kau sembunyikan
Biarkanlah apa adanya
Rumputan menjalar indah dipandang
Telah kutemukan cermin hidupku
Pada rambutmu
Saat kujamah di pagi yang basah

(M. Shoim Anwar, Januari 2015)


MENDUNG BERDURI
Balasanmu pendek sekali
Seperti pelepah pisang yang diranjang celurit cemburu
Patahannya menyisakan amis di dada
Mengapa percik getahnya menyiprat ke ladang
Yang kutanam dengan cinta
Cuaca sepanjang hari mengirim mendung berduri
Adakah aku harus berlari
Meninggalkan jejak yang terlanjur mengurai sepi
Pada jemarimu telah kutulis sekuntum puisi
Sementara sayap-sayap mawar yang gugur minta kuganti biji esok hari
Tapi kilatan-kilatan celuritmu menuding ke dahi
Tanpa kumengerti

(M. Shoim Anwar, Januari 2015)

3.      Buatlah sebuah esai (analisis) untuk cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah) berdasarkan teori sastra poskolonial!

Jawaban!
1.      Subject matter adalah pokok pikiran yang di kemukakan penyair lewat puisi yang di ciptakannya. Subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuaatu yang di ungkapkan penyair.
Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. Hal itu mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu manusia pada umumnya juga di latar belakangi oleh sikap tertentu pula.
Tone adalah sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang di tampilkannya.
Total of meaning adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam suatu puisi. Penentuan totalitas makna puisi didasarkan atas pokok pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair di dalam pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca.
Theme adalah ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi.
2.      Analisis puisi yang berjudul “Malam Itu”
Dalam hal sense, secara hipotesis dapat ditetapkkan bahwa lewat puisi “malam itu” penyair menggambarkan seseorang yang sedang sendiri ditinggalkan sang kekasih yang tidak tahu kemana perginya dan pada malam itu seseorag telah diselimuti oleh rindu dan dia tidak sanggup menahan kerinduan tersebut. Untuk membuktikan kebenaran gambaran makna judul maupun gambaran makna secara umum, jalan pertama yang ditempuh adalah mengategorikan kata-kata termasuk kategori lambang dan kata-kata yang termasuk kategori symbol. Dalam puisi malam itu yang termasuk lambang adalah kata-kata mengirim, kepergianmu, dimanakah, kutinggal. Sedangkan kata-kata yang bersifat simbolik adalah kata-kata tebu, ruang, dengus, detak, gelanggang, ketiak.
Selanjutnya membahas makna setiap lariknya. Larik pertama yang berbunyi Malam itu aku seperti tercampakkan. Larik kedua yang berbunyi Bagai tebu habis disesap dahaga waktu. Bila dihubungkan dengan proyeksi makna kata tercampakkan diatas dapat disimpulkan seseorang tersebut sedang mengalami kesedihan, kesepian, tidak ada orang yang mengerti dia. Dari telaah diatas, semakin jelas bagaimana hubungan antara baris satu dengan baris lainnya. Selanjutnya melihat satuan-satuan pokok pikiran dalam paragraf-paragraf yang telah dibuat sehingga dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut terdapat 3 pokok pikiran, yaitu: malam yang sunyi dan hampa aku tercampakkan, rasa bosan yang berselimut kelam, dan kerinduan akan kepergian sang kekasih.
Selanjutnya analisis sikap penyair puisi malam itu yaitu ia mengungkapkan bahwa dalam situasi demikian tidak ada jalan lain kecuali meratapi kesedihannya. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa dalam menampilkan pokok-pokok pikirannya, penyair memiliki satu sikap, yakni berserah terhadap apa yang terjadi.
Sikap penyair terhadap pembaca akan menunjukan adanya sikap yang bermacam-macam. Mungkin pembaca akan larut dalam kesedihan penyair, pembaca meratapi betapa berat hidup penyair yang tercampakkan.
Dari keseluruhan totalitas makna yang terdapat dalam puisi berjudul “malam itu”, dapat dikatakan bahwa tema dalam puisi tersebut adalah kesedihan, kesunyian dalam diri akibat rasa rindu yang tak tersampaikan dan tak tertahankan.

Analisis puisi yang berjudul “Rambutmu”
Dalam hal sense, secara hipotesis dapat ditetapkkan bahwa lewat puisi “Rambutmu” penyair menggambarkan keindahan rambut yang bergelombang, cerminan hidup pada rambut yang indah.Selanjutnya membahas makna setiap lariknya. Larik pertama yang berbunyi Gelombang mengalir di rambutmu. Larik kedua yang berbunyi basah di pagi itu. Bila dihubungkan dengan proyeksi makna kalimat Gelombang mengalir di rambutmu  diatas dapat disimpulkan seseorang tengah memuji wanita pujaannya. Dari telaah diatas, semakin jelas bagaimana hubungan antara baris satu dengan baris lainnya. Selanjutnya melihat satuan-satuan pokok pikiran dalam paragraf-paragraf yang telah dibuat sehingga dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut terdapat pokok pikiran, yaitu: terkesima akan keindahan rambut dan cerminan hidup terdapat pada rambut yang indah.
Selanjutnya analisis sikap penyair puisi rambutmu yaitu ia mengungkapkan bahwa ia mengagumi keindahan rambut seseorang yang telah disembunyikan oleh seseorang tersebut. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa dalam menampilkan pokok-pokok pikirannya, penyair memiliki satu sikap, yakni memuji wanita yang memiliki rambut indah tersebut.
Sikap penyair terhadap pembaca akan menunjukan adanya sikap yang bermacam-macam. Mungkin pembaca akan larut dalam kebahagiaan penyair. Dari keseluruhan totalitas makna yang terdapat dalam puisi berjudul “Rambutmu” dapat dikatakan bahwa tema dalam puisi tersebut keindahan rambut yang tersembunyikan.

Analisis puisi yang berjudul “Mendung berduri”
Dalam hal sense, secara hipotesis dapat ditetapkkan bahwa lewat puisi “Mendung berduri” penyair menggambarkan balasan singkat dari orang yang ia cintai.
Selanjutnya membahas makna setiap lariknya. Larik pertama yang berbunyi Balasanmu pendek sekali. Larik kedua yang berbunyi Seperti pelepah pisang yang diranjang celurit cemburu. Bila dihubungkan dengan proyeksi makna kalimat Balasanmu pendek sekali diatas dapat disimpulkan seseorang tengah membaca balasan yang singkat dari orang lain. Dari telaah diatas, semakin jelas bagaimana hubungan antara baris satu dengan baris lainnya. Selanjutnya melihat satuan-satuan pokok pikiran dalam paragraf-paragraf yang telah dibuat sehingga dapat disimpulkan bahwa puisi tersebut terdapat pokok pikiran, yaitu: kesedihan akan sikap dari orang yang dicintainya. 
Selanjutnya analisis sikap penyair puisi mendung berduri yaitu ia mengungkapkan bahwa ia tengah sedih akan balasan yang pendek sekali dari orang yang ia cintai. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa dalam menampilkan pokok-pokok pikirannya, penyair memiliki satu sikap, yakni sedih dan kecewa akan sikap dari orang yang ia cintai.
Sikap penyair terhadap pembaca akan menunjukan adanya sikap yang bermacam-macam. Mungkin pembaca akan larut dalam kesedihan dan kekecewaan penyair. Dari keseluruhan totalitas makna yang terdapat dalam puisi berjudul “mendung berduri” dapat dikatakan bahwa tema dalam puisi tersebut kekecewaan akan balasan singkat dari seseorang yang dicintai.

3.      Esai (analisis) untuk cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah) berdasarkan teori sastra poskolonial.

Secara umum postkolonial dipahami sebagai teori, wacana, dan istilah yang digunakan untuk memahami masyarakat bekas jajahan, terutama sesudah berakhirnya imperium kolonialisme modern. Oleh sebab itu, Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya, Postkolonialisme Indonesia Relevansi Sastra (2008:81—82) mengemukakan lima pokok pengertian postkolonial, yaitu (1) menaruh perhatian untuk menganalisis era kolonial, (2) memiliki kaitan erat dengan nasionalisme, (3) memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, sekaligus belajar dari masa lampau untuk menuju masa depan, (4) membangkitkan kesadaran bahwa penjajahan bukan semata-mata dalam bentuk fisik, melainkan juga psikis, dan (5) bukan semata-mata teori, melainkan kesadaran bahwa banyak pekerjaan besar yang harus dilakukan, seperti memerangi imperalisme, orientalisme, rasialisme, dan berbagai bentuk hegemoni lainnya.

Analisis wacana poskolonial bisa digunakan di satu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja. Cerpen berjudul “Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M. Shoim Anwar bercerita tentang realita kehidupan yang dialami warga bukan sebuah mitos tapi benar-benar terjadi dan itu nyata. Terdapat lumpur panas yang menyembur dari lubang pengeboran yang menggerus bagian bawah tanggul. Dalam waktu yang sangat cepat, tanggul demi tanggul ambrol diterjang lumpur panas, desa demi desa dilalap satu demi satu, dan korban terus berjatuhan.
Cerpen berjudul “Dalam Kejaran Sang Raksasa” karya M.Shoim Anwar telah mengingatkan kita bahwasanya bencana alam bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Lumpur panas dalam cerpen ini diibaratkan sebagai sang raksasa yang memangsa korban-korbannya, dan yang terjadi merupakan realita sebenarnya apabila terdapat bencana alam. Warga di desa itu tidak bisa berbuat apa-apa selain berada di tempat pengungsian, karena pada saat itu yang berkuasa adalah lumpur panas atau diibaratkan sang raksasa. Warga memperoleh haknya untuk mengungsi di pengungsian karena rumah-rumah sudah banyak yang dilahap oleh sang raksasa.
Mas win sebagai suami Timas dan Ayah dari saipul hanya bisa menceritakan kejadian yang dialaminya, tanpa bisa berbuat apa-apa, disini mas win sebagai orang yang terjajah akan keadaan, ia bingung harus melakukan apa untuk menolong istri dan kawan-kawannya.

Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain. Dalam hal ini penulis akan melakukan penganalisisan berdasarkan pendekatan poskolonialisme, diantaranya: hegemoni kuasa, mimikri, oposisi biner, orientalisme, diapora, dan teori atau kritik feminisme.

Pada cerpen berjudul “Dalam Kejaran Sang Raksasa”  karya M. Shoim Anwar, hegemoni kuasa merupakan suatu bentuk kekaisaran yang mengendalikan seseorang dengan kekuasaan yang dapat memaksakan tujuannya. Dalam hal ini sang raksasa melahap, membunuh warga-warga dengan cara yang sadis, menghancurkan sumber kehidupan warga. Seperti terdapat pada kutipan:
“Nasib Marsinah berakhir dengan tragis sebelum perjuangannya tercapai secara merata. Dia dijegal di Tugu Kuning saat pulang bersama Timas. Marsinah berteriak minta tolong. Timas tak kuasa karena sang raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh oleh sang raksasa itu. Kami merasa terpukul. Kami merasa kehilangan.”
“Habis sudah  sumber kehidupan kami. Harta benda yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit bersama Timas  telah hancur di dasar lumpur. Kami terusir ke barak pengungsian.”
Alat produksi di tempat Mas Win, Timas, Marsinah bekerja diasuransikan, tapi buruhnya tidak. Disini alat produksi berkuasa dan telah menjajah manusia atau pekerjanya. Karena yang lebih dihargai dalam bekerja adalah alat produksinya bukan manusianya. Seperti terdapat pada kutipan:
“Semua alat pabrik disini diasuransikan, tapi buruhnya tidak. Berarti alat lebih dihargai daripada manusia. Itulah sebabnya kita minta nasib buruh diperbaiki. Dan itu harus disuarakan.”
Pada cerpen ini juga terdapat dua biner yaitu penjajah dan dijajah, mengkaji pertentangan antara yang kuat dan lemah, yaitu sang raksasa dan para warga. Dijelaskan bahwa penjajah terdapat pada sang raksasa dan yang dijajah adalah warga desa, terbukti dari kutipan yang ada bahwa warga desa harus rela kehilangan desa dan tempat tinggalnya.
      “Seluruh kampung dan isinya telah menjadi fosil. Sedangkan para penghuninya terpuruk dalam pengungsian dengan nasib tak menetu. Tangis dan air mata telah menggumpal beku.”
Dalam cerpen ini terdapat beberapa hal masih menggunakan cara mimikri.
Mimikri bahasa yang dialami tokoh dalam Cerpen berjudul “Dalam Kejaran Sang Raksasa” adalah tokoh Saipul yang menggunakan bahasa Jawa dalam memanggil ayah dan ibunya. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.
“Kapan Emak pulang, Bapak? Tanya saipul disebelahku”
Mimikri bahasa yang digunakan dalam cerpen ini juga menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.
“Dari atas tanggul, lumpur itu tampak menghampar luas. Seperti danau timah yang pekat dan panas. Beberapa ujung batang pohon yang tersisa kelihatan seperti cakar-cakar kering yang menjerit. Ribuan bangunan sudah tenggelam. Tinggal kerangka satu-dua atap yang tersisa.”

Mimikri identitas yang digunakan adalah identitas penataan rumah. Mas win sebagai tumpuhan keluarga menharapkan rumah yang layak untuk ditempati bersama dengan keluarganya, ia bekerja mengumpulkan uang demi merenovasi rumah agar layak ditempati.
Berikut kutipan yang menggambarkan pernyataan tersebut.

“Aku menjadi tumpuhan harapan keluarga. Rumah masih reyot, mirip kandang sapi, menunggu kami membangunnya hingga menjadi bangunan tembok yang kokoh. Setiap pulang ibu pasti membicarakan soal rumah kami yang jauh tertinggaldengan tetangganya.”


Menurut Said, orientalisme pada awalnya muncul dalam kristianitas sebagai konsep pentin misionaris dan control mereka pada yang lain melalui pengetahuan. Suatu discoursus dimana konsep kepentingan, kekuasaan dengan pengetahun melebur, pandangan ini akhirnya meruntuhkan konsep epistimologi pondasional (positipis) terutama tentang ilmu bebas nilai.
Orientalisme merupakan suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat. Timur sebagai tempat-tempat koloni Eropa yang terbesar, terjaya, dan tertua, sumber peradaban, sebagai salah satu imajinasinya yang paling dalam dan paling sering muncul tentang “dunia yang lain” menurut Said (dalam Yasa, 2012:236).
Dalam Cerpen berjudul “Dalam Kejaran Sang Raksasa” mas win sebagai suami Timas dikategorikan pria yang miskin yang menjadi tulang punggung keluarga sedangkan Timas istrinya anak tunggal dari keluarga yang berada. Mereka berdua bisa bersatu karena salah satu faktornya mas win melakukan cara untuk memahami atau menyesuaikan diri dengan keadaan Timas dan keluarganya yang berada.

Ashcroft menyatakan bahwa ambivalensi diadaptasi dari teori wacana diskursus kolonial Homi Bhabha yang mendeskripsikan kompleksitas perpaduan antara penerimaan dan penolakan yang mencirikan hubungan antara penjajah dan terjajah. Relasi yang ambivalen muncul disebabkan oleh perilaku subjek kolonial yang bukan hanya dan secara lengkap menentang kolonial. Subjek kolonial di satu sisi menerima kekuasaan tetapi di sisi lain mereka melawan (dalam Yasa, 2012: 230).
Konsep ambivalensi dalam cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” terdapat pada tokoh mas win yang awalnya dekat dengan Lusi tetapi tidak terlibat hubungan asmara dengannya kemudian menerima kekuasaan dari Marsinah atas perjodohannya dengan Timas.

Salah satu penemuan penting dari studi wacana kolonial adalah diaspora. Istilah diaspora merupakan istilah lain dari perpindahan. Perpindahan yang terdapat dalam cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” yaitu perpindahan tempat yang dialami para warga dari tempat tinggalnya (rumah) ke tempat pengungsian akibat terjadinya penjajahan. Perpindahan tersebut tidak semata-mata dilakukan, terdapat relasi kuasa yang terjadi. Pemegang kuasa dalam hal ini adalah sang raksasa, karena sang raksasa sudah melahap habis desa tempat tinggal para warga. Seperti terdapat pada kutipan:
“Sedangkan para penghuni lainnya kini terpuruk dalam pengungsian dengan nasib tak menentu.”

Teori atau kritik feminisme  merupakan bagian dari  poskolonial  ketika laki-laki dipandang sebagai “penjajah terhadap perempuan, Disini Lusi terjajah oleh laki-laki yang dekat dengannya tetapi saat Lusi mengalami masalah dalam dirinya laki-laki tersebut meninggalkannya. Seperti pada kutipan berikut:
      “Aku dapat kabar tiga jari kanan lusi putus terkena mesin pemotong. Kabar rencana perkawinannya juga menjadi tidak jelas karena sang pacar berpaling ke perempuan lain.”

Daftar Pustaka
      Anwar, Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:CV Pustaka Ilalang

      Lingua. 2015.  TEORI  POSKOLONIAL  EDWARD W. SAID
(diakses tanggal 21 Juli 2017)

Anna. 2013. Teori Sastra Analisis Poskolonial. http://anna-a-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-81351-Teori%20Sastra%20II-ANALISIS%20POSTKOLONIAL.html (diakses tanggal 21 Juli 2017)


Minggu, 11 Juni 2017

ANALISIS CERPEN “JANGAN KE ISTANA, ANAKKU” KARYA M. SHOIM ANWAR MENGGUNAKAN TEORI STRUKTURALISME GENETIK

ANALISIS CERPEN “JANGAN KE ISTANA, ANAKKU” KARYA M. SHOIM ANWAR MENGGUNAKAN TEORI STRUKTURALISME GENETIK
Dosen Pengampu
Dr. M. Shoim Anwar M.Pd
Mata Kuliah
Teori Sastra
 
 
 Oleh :
Nahdiyan Tri Yustia       165200064
PBSI 2016-B




UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017



A.    Teori Strukturalisme Genetik

      Strukturalisme genetik merupakan teori di bawah payung sosiologi sastra. Strukturalisme genetik lahir dari seorang sosiolog Perancis, Lucien Goldmann. Kemunculannya disebabkan, adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik karya sastra, sehingga karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya.

      Strukturalisme genetik mencoba untuk memperbaiki kelemahan pendekatan Strukturalisme, yaitu dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahami karya sastra. Strukturalisme Genetik sering juga disebut strukturalisme historis, yang menganggap karya sastra khas dianalisis dari segi historis. Goldmann bermaksud menjembatani jurang pemisah antara pendekatan strukturalisme (intrinsik) dan pendekatan sosiologi (ekstrinsik).

      Dari sudut pandang sosiologi sastra, strukturalisme genetik memiliki arti penting, karena menempatkan karya sastra sebagai data dasar penelitian, memandangnya sebagai suatu sistem makna yang berlapis-lapis yang merupakan suatu totalitas yang tak dapat dipisah-pisahkan (Damono, 1979:42). Hakikatnya karya sastra selalu berkaitan dengan masyarakat dan sejarah yang turut mengkondisikan penciptaan karya sastra, walaupun tidak sepenuhnya di bawah pengaruh faktor luar tersebut. Menurut Goldmann, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat asal karya sastra yang bersangkutan (Faruk, 1999b:12). Goldmann percaya pada adanya homologi antara struktur karya sastra dengan struktur masyarakat sebab keduanya merupakan produk di aktivitas strukturasi yang sama (Faruk, 1999b:15).

      Pada perkembangannya strukturalisme genetik juga dipengaruhi oleh ilmu seorang marxis, yaitu George Lukacs. Menurut Goldmann strukturalisme genetik memandang struktur karya sastra sebagi produk dari struktur kategoris dari pemikiran kelompok sosial tertentu (Faruk, 1999a:12). Kelompok sosial itu mula-mula diartikan sebagai kelompok sosial dalam pengertian marxis (Faruk, 1999a:13-14).
Konsep Fakta Kemanusiaan
Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktivitas atau perilaku manusia, baik yang verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan (Faruk, 1999b:12). Aktivitas atau perilaku manusia harus menyesuaikan kehidupan dengan lingkungan sekitar. Individu-individu berkumpul membentuk suatu kelompok masyarakat. Dengan kelompok masyarakat manusia dapat memenuhi kebutuhan untuk beradabtasi dengan lingkungan.
Dengan meminjam teori psikologi Pioget, Goldmann (dalam Faruk, 1999b:13), menganggab bahwa manusia dan lingkungan sekitarnya selalu berada dalam proses strukturasi timbal balik yang saling bertentangan tetapi yang sekaligus saling isi-mengisi. Oleh karena itu, fakta kemanusiaan merupakan struktur yang bermakna. Menurut Endraswara (2003:55) semua aktivitas manusia merupakan respon dari subjek kolektif atau individu dalam situasi tertentu yang merupakan kreasi untuk memodofikasi situasi yang ada agar cocok dengan aspirasi, sehingga dalam hal ini manusia memiliki kecenderungan untuk berperilaku alami karena harus menyesuaikan dengan alam semesta dan lingkungannya. Oleh karenanya, fakta kemanusiaan dapat bersifat individu atau sosial.
Damono (1979:43) berpendapat, untuk menelaah fakta-fakta kemanusiaan baik dalam strukturnya yang esensial maupun dalam kenyataannya yang kongkrit membutuhkan sutau metode yang serentak bersifat sosiologis dan historis. Dengan fakta kemanusiaan dapat diketahui bahwa sastra merupakan cermin dari pelbagai segi struktur sosial maupun hubungan kekeluargaan.
Konsep Subjek Kolektif
Subjek kolektif merupakan bagian dari fakta kemanusiaan selain subjek individual. Fakta kemanusiaan muncul karena aktivitas manusia sebagai subjek. Pengarang adalah subjek yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karenanya di dalam masyarakat terdapat fakta kemanusiaan.
Karya sastra diciptakan oleh pengarang. Dengan demikian karya sastra lebih merupakan duplikasi fakta kemanusiaan yang telah diramu oleh pengarang. Semua gagasan pengarang dapat dikatakan sebagai perwakilan dari kelompok sosial. Oleh sebab itu pengkajian  terhadap karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan pengarang untuk mendapat makna yang menyeluruh. Menurut Juhl (dalam Iswanto, 2001:60) bahwa penafsiran terhadap karya sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan sangat berbahaya, karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas, kepribadian, cita-cita, juga norma-norma yang dipegang teguh oleh pengarang tersebut dalam kultur sosial tertentu.
Subjek kolektif adalah kumpulan individu-individu yang membentuk satu kesatuan beserta aktivitasnya. Goldmann (dalam Faruk, 1999:15) menspesifikasikannya sebagai kelas sosial dalam pengertian marxis, sebab baginya kelompok itulah yang terbukti dalam sejarah sebagai kelompok yang telah menciptakan suatu pandangan yang lengkap dan menyeluruh mengenai kehidupan dan yang telah mempengaruhi perkembangan sejarah umat manusia.
Konsep Pandangan Dunia
Goldmann juga mengembangkan konsep mengenai pandangan dunia yang dapat terwujud dalam karya sastra dan filsafat. Menurutnya, struktur kategoris yang merupakan kompleks menyeluruh gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota kelompok sosial tertentu dan mempertentangkannya dengan kelompok sosial yang lain disebut pandangan dunia (Faruk, 1999a:12).
Pemahaman terhadap karya sastra adalah usaha memahami perpaduan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk atau totalitas kemaknaan. Setiap karya sastra yang penting mempunyai struktur kemaknaan (Strukture Significative), karena menurut Goldmann, struktur kemaknaan itu merupakan struktur global yang bermakna dan mewakili pandangan dunia (vision du monde, world vision). Penulis tidak sebagai individu, tetapi mewakili golongan (kelas) masyarakat (Satoto, 1986:175).
Pada gilirannya pandangan dunia itulah yang menghubungkan karya sastra dengan kehidupan masyarakat. Latar belakang sejarah, zaman dan sosial masyarakat turut mengkondisikan terciptanya karya sastra baik dari segi isi atau segi bentuk dan strukturnya. Hal ini desebabkan oleh kenyataan bahwa pandangan dunia itu sendiri oleh Strukturalisme Genetik dipandang sebagai produk dari hubungan antara kelompok sosial yang memilikinya dengan situasi sosial dan ekonomi pada saat tertentu (Goldmann dalam Faruk, 1999a:13). Oleh karena itu, sastra pada dasarnya juga merupakan kegiatan kebudayaan atau peradaban dari setiap situasi, masa atau zaman saat sastra itu dihasilkan. Dengan situasi inilah, tidak dapat dipungkiri bahwa sastra adalah pemapar unsur-unsur sosiokultural demi memberi pemahaman nilai-nilai budaya dari setiap zaman atau perkembangan zaman itu sendiri. Goldmann berpandangan bahwa kegiatan kultural tidak bisa dipahami di luar totalitas kehidupan dalam masyarakat yang telah melahirkan kegiatan itu; seperti halnya kata tidak bisa dipahami di luar ujaran (Damono, 1979:43). Jadi, pada dasarnya sastra juga mengandung nilai-nilai historis, sosiologis, dan kultural.
Goldmann (dalam Satoto, 1986:176) menyatakan bahwa pandangan dunia ini  disebut sebagai suatu bentuk kesadaran kelompok kolektif yang menyatukan individu-individu menjadi suatu kelompok yang memiliki identitas kolektif. Menurut Goldmann, karya sastra, namun demikian, bukan refleksi dari suatu kesadaran kolektif yang nyata dan ada, melainkan puncak dalam suatu level koherensi yang amat tinggi dari kecenderungan-kecenderungan khusus bagi kelompok tertentu, suatu kesadaran yang harus dipahami sebagai suatu realitas dinamik yang diarahkan ke satu bentuk keseimbangan tertentu (Faruk, 1999b:33). Pandangan dunia bukan merupakan fakta empiris yang langsung, tetapi lebih merupakan struktur gagasan, aspirasi dan perasaan yang dapat menyatukan suatu kelompok sosial masyarakat.
Konsep “Pemahaman-Penjelasan”
Goldmann menjelaskan tentang metodenya itu: untuk bisa realistis, sosiologi harus bersifat historis; demikian juga sebaliknya, untuk bisa ilmiah dan realistis, penelitian sejarah harus sosiologis (Damono, 1979:43). Dengan demikian, strukturalisme genetik merupakan teori alternatif untuk menganalisis karya sastra yang antara historis dan sosiologis dapat dilakukan secara berkaitan.
Karya sastra harus memiliki kepaduan antara struktur yang satu dengan yang lain. Unsur luar maupun unsur dalam sama-sama memiliki arti penting di dalam membangun karya sastra. Kepaduan dari kedua unsur tersebut memberi kelengkapan, bahwa karya sastra tidak hanya dapat dilihat dari dalam (teks) sastra, melainkan unsur pembentuk dari luar. Karya sastra berusaha mengungkap persoalan-persoalan yang dihadapi manusia. Persoalan-persoalan itu sebagian ada yang terpecahkan dan sebagian tidak ditemukan jalan keluarnya.
Karena itu, Goldmann mencoba mengembangkan metode dialektik. Prinsip dasar dari metode dialektik yang membuatnya berhubungan dengan masalah koherensi di atas adalah pengetahuannya mengenai fakta-fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dibuat kongkret dengan mengintegrasikan ke dalam keseluruhan (Goldmann dalam Faruk, 1999b:19-20).
Metode dialektik mengembangkan dua konsep, yaitu “Pemahaman-penjelasan” dan “Keseluruhan-bagian.” Pemahaman adalah pendeskripsian struktur objek yang dipelajari, sedangkan penjelasan adalah usaha menggabungkan ke dalam struktur yang lebih besar (Goldmann dalam Faruk, 1999b:21). Pada dasarnya pengertian konsep “Pemahaman-penjelasan” sangat berkait dengan konsep “Keseluruhan-bagian.”
Pada penjelasan konsep fakta kemanusiaan telah dikemukakan bahwa terdapat dua fakta, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta individual baru memiliki arti penting jika di tempatkan dalam keseluruhan. Sebaliknya, keseluruhan mempunyai arti karena merupakan respon-respon dari bagian-bagian yang membangunnya. Konsep “Keseluruhan-bagian” memilki keterkaitan untuk saling melengkapi dalam memberi arti dari “keseluruhan” dan “bagian” itu sendiri.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka strukturalisme genetik memandang karya sastra tidak hanya sebagai yang memilki struktur yang lepas-lepas, melainkan adanya campur tangan faktor-faktor lain (faktor sosial) dalam proses penciptaannya. Karya sastra dipahami sebagai totalitas perpaduan struktur dalam dan struktur luar.
Apabila dirumuskan dalam bentuk definisi, strukturalisme genetik pada prinsipnya adalah teori sastra yang berkeyakinan bahwa karya sastra tidak semata-mata merupakan suatu struktur yang statis dan lahir dengan sendirinya, melainkan merupakan hasil strukturasi struktur kategoris pikiran subjek penciptanya atau subjek kolektif tertentu yang terbangun akibat interaksi antara subjek itu dengan situasi sosial dan ekonomi tertentu (Faruk, 1999:13).

B.     Analisis Cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” menggunakan Teori Strukturalisme Genetik

Analisis ini menitikberatkan pada pendekatan karya sastra sebagai pandangan dunia. Dalam cerpen yang berjudul “Jangan ke Istana, Anakku” mengekspresikan suatu pandangan dunia mengenai pemikiran tokoh “aku” yang tidak menginginkan anaknya memilih istana, tokoh “aku” ingin membangunkan gubuk untuk anaknya. Seperti terdapat pada kutipan:
Aku ingin membangunkan gubuk untukmu, Anakku. Bukan istana, sebab pada istana yang dikelilingi sungai-sungai buaya, pagar tinggi dengan kawat berduri baja, kau terpenjara dengan dijaga anjing-anjing yang siap memangsa.”
“Aku ingin membangunkan gubuk untukmu, Anakku. Bukan istana, biar sehabis sekolah anak-anakmu kelak bisa merasakan indahnya dunia, hujan-hujan sambil bermain lumpur di tanah basah dengan teman-teman seusia.”
Tokoh-tokoh yang ada dalam cerpen yang diteliti meliputi: Dewi, Papa Dewi, Trihayu, Nyi Blorong, Perempuan-Perempuan Cantik, Baginda Raja, Permaisuri, Penjaga istana,Putri Raja, penduduk.
1.      Oposisi Kultural: Istana yang penuh dengan rahasia-rahasia.
2.      Oposisi “alamiah”: alam sebagai subjek dan alam sebagai objek bagi manusia.
3.      Oposisi Sosial: Masyarakat atau penduduk berkedudukan lebih rendah dibandingkan dengan anjing-anjing penjaga istana. Yang membuat penduduk tersebut dipandang sebelah mata. Sehingga baginda Raja dapat bersikap semena-mena.
4.      Oposisi Manusia: Papa Dewi yang berada di dalam istana tersebut adalah narator.

Pandangan dunia itu tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan terbentuk akibat pengaruh dari latar sosial, budaya, dan bahkan ekonomi yang ia dapat melalui hubungan dan interaksi yang ia lakukan dengan lingkungan masyarakat di sekitarnya. Struktur karya sastra ini mengekspresikan suatu pandangan dunia mengenai diskriminasi akibat gejolak politik di dalam sebuah istana.
Cerpen “Jangan ke Istana, Anakku” mengungkapkan pandangan pengarang yang masih melihat pemikiran orang zaman dahulu, yang masih mempercayai adanya tumbal. Kesengsaraan yang dialami para tokoh, dan keterpaksaan yang dialami tokoh “aku” dalam menjalankan tugas yang diberikan dan tokoh “aku” tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya. Tokoh “aku” juga kehilangan kebebasannya. Seperti terdapat pada kutipan:
“Konon perempuan-perempuan cantik itu dijadikan wadal alias tumbal istana, dimasukkan ke sumur lorong gelap bawah tanah yang dihuni oleh Nyi Blorong peliharaan istana.”
Istana yang laknat. Mengapa aku, istri, dan anak kesayanganku, semua diganyang oleh istana. Sudah sering aku melihat kejadian serupa. Perempuan muda dibawa masuk dihadapkan baginda. Lalu musnah tak ada ceritanya. Tubuhku serasa meleleh dan hancur.
“Tapi ini bukan kebebasan selamanya. Orang-orang suruhan istana selalu mengintai gerak langkahku. Aku dimata-matai karena dikhawatirkan bersekongkol dan membocorkan rahasia”.

Pengarang juga telah menggambarkan bagaimana sikap seorang pemimpin terhadap masyarakatnya. Kenyataan yang seperti inilah yang menyebabkan pengarang berada di posisi sebagai masyarakat yang tertindas tersebut.














Daftar Pustaka

Anwar, Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:CV Pustaka Ilalang

Al Azhar. 2012. Teori Strukturalisme Genetik https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/teori-strukturalisme-genetik/ (diakses tanggal 28 mei 2017)