ANALISIS CERPEN “TAHI LALAT DI DADA ISTRI PAK LURAH”
KARYA M. SHOIM ANWAR MENGGUNAKAN TEORI POSKOLONIAL
Dosen Pembimbing
Dr.
M. Shoim Anwar M.Pd
Oleh :
Nahdiyan Tri Yustia
165200064
PBSI 2016-B
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017
A.
Teori Poskolonial
Poskolonial “posklonial” merupakan
turunan dari kata “kolonial”.Istilah colony dalam bahasa Romawi berarti tanah
pertanian atau pemukiman. Istilah ini mengacu pada orang-orang Romawi yang
tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi.
Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah
pemukiman dalam sebuah negeri baru, sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah
lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan
Negara asal mereka.
Anthony Appiah mengemukakan tentang
adanya persamaan dan perbedaan penggunaan istilah “pasca/pos” pada kedua
istilah tersebut, persamaannya adalah pasca/pos sama-sama menaruh perhatian
pada persoalan historiografi dan refleksivitas dalam politik representasi
cultural, walaupun artikulasi, interpretasi serta penyebaran keduanya memiliki
perbedaan. Keduanya juga dianggap memiliki keterkaitan dengan poststrukturalisme
dan postmodernisme.
Secara definitive teori postcolonial
lahir sesudah kebanyakan Negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya.
Teori poskolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah
mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Seperti
sastra Afrika, Australia, Bangladesh , Canada, Karibia, India, Selandia Baru,
Pakistan, Singapura, Sri langka, Malaysia dan Indonesia. Sementara sastra
Amerika dinggap sebagai prototype Poskolonial karena sejak abad ke 18 telah
mengembangkan konsep sastra Amerika yang dibedakan dengan Sastra Inggris.
Pada tahun 1978, Edward Said
menerbitkan bukunya yang berjudul erientalism. Buku ini meahirkan kegerahan dan
sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti kurtural studies,
kajian wilayah dan secara khusus melahirkan kajian ilmiah yang dilingkungan
akademis dikenal dengan analisis diskursus colonial. Gagasan Edwar Said sangat
luas, ia membahas tentang berbagai contest local budaya, sehingga disebut juga
dengan “travelling teory’. Bukunya yang berjudul power and culture : interviews
with Edward Said merupakan perluasan buku orientalism ditambah dengan
wawancaranya. Pemikiran Edwar Said diakui oleh kelompok yang mendukung kajian /
discourses colonial dan yang menantangnya, talah meninbulkan pengaruh yangluar
biasa bagi analisis kolonialisme dan pemikiran colonial. Lapangan penelitian
baru yang dirintis oleh Edward Said dilingkungan dunia akademis, kemudian
dikenal dengan teory pascacolonial (postcolonial theory).
Edward Said merasa mendapat manfaat
yang besar dari pengalaman hidupnya di Palestina, pendidikannya serta berbagai
perbincangannya mengenai budaya dan politik yang akhirnya dapat ia jdikan
sebagai inventory yang memperluas gagasannya dan menumbuhkan kesadaran kritis
dan humanis. Theory poscolonial muncul sebagai oposisi dari teori kolonoal,
yang sering diidentikkan dengan oposisi biner dari colonial atau oksidental.
Oksidentalisme (barat) sebagai ikon Negara colonial (penjajah), sedangkan
oriental atau timur sebagai Negara-negara yang dijajah (discolonisasi). Istilah
orientalisme menurut Edward Said dapat didefinisikan dengan tiga cara yang
berbeda.
1. Memandan orientalisme sebagai mode
atau paradigma berpikir epistemology dihasilkan (dikonstruksi) oleh bentuk
tertentu kekuasaan dan pengetahuan colonial.
2. Orientalisme dapat juga dipahami
sebagai gelar akademis untuk menggambarkan serangkaian lembaga, vdisiplin dan
kegiatan ilmiah terdapat pada universitas barat yang peduli pada kajian
masyarakat dan kebudayaan masyarakat timur.
3. Melihat orientalisme sebagai lembaa
resmi yang pada hakikaya peduli pada timur.
Menurut Said, orientalisme pada
awalnya muncul dalam kristianitas sebagai konsep pentin misionaris dan control
mereka pada yang lain melalui pengetahuan. Suatu discoursus dimana konsep
kepentingan, kekuasaan dengan pengetahun melebur, pandangan ini akhirnya
meruntuhkan konsep epistimologi pondasional (positipis) terutama tentang ilmu
bebas nilai. Orientalisme adalah kultur timur sebagai hal yang kontras dengan
kultur barat. Apa yang disebut sebagai esensi timur adalah objek discoursus
colonial yang berlawanan dengan barat yang tidak terlepas dari pengaruh kuasa
dan pengetahuan.
Edward Said merasakan bagaimana
rakyat Palestina yang terjajah dan kesetiaannya pada Palestina. Ketajaman
analisisnya berhasil menyingkap teori pasca colonial yang semula terpokus pada
masalah colonialism, kemudian melebar memasuki dunia ilmiah. Said mengemukakan
arti orientalisme dalam tiga wilayah yang saling tumpang tindih.
- Orientalisme menciptakan sejarah pahit yang panjang hubungan antara Eropa dan Asia Afrika.
- Hal ini juga menciptakan bidang-bidang ilmu yang sejak awal abad ke 19 sebagai spesialis dalam bahasa dan kebudayaan oriental.
- Colonialisme menciptakan stereotype – stereotype dan dan ideology tentang “the orient” yang diidentikkan dengan “The Other” atau yang lain “ The Occident” (the self).
Dalam buku Orientalisme, said
menunjukkan bagaimana imaji barat tentang Timur, dan bagaimana kuasa dan
pengetahuan saling kait-mengait dalam tulisan-tulisan kaum orientalis. Dalam
essainya, the world, the text, and the critic, said melakukan penelitian dan
menyingkap tentang keterkaitan teks dengan konteks atau ‘keduniawian’ teks.
Anggapan tentang objektivisme teks atau penafsiran objektif sebenarnya
mengabaikan hubungan antara teks dengan konteks.
Pada bagian penutup buku
orientalisme yang diterbitkan ulang tahun 1995 ini pula, Edward Said
mengemukakan bahwa hadirnya revolusi kesadaran yang luar biasa dalam kesadaran
kaum perempuan, kaum minoritas, serta golongan marjinal berpengaruh secara
langsung pada pemikiran mainstream di seluruh dunia. Tampilanya kajian
orientalisme ternyata begitu dramatis, sehingga menyedot perhatian semua orang
yang secara serius peduli dengan kajian budaya yang teoritis dan ilmiah.
Seperti Said Edward Sapir membongkar epistemology orientalisme sambil membuka
pintu poskolonial (isme) ; konsep wacana Foucault, serta sastra sebagai medium
pembaruan moral dari Gramsci digunakan untuk mengungkapkan ideologi-ideologi kelompok
sosial..
Teori pascakolonial Edward Said yang
dikemukakan melalui bukunya Orientalisme: western conception of the Orient dan
Cultural and Imperialisme telah menggoncangkan pemikiran dunia. said
menggulirkan kritik pedas terhadap pandangan, konsep dan konstruksi ahli barat
tentang Timur. Serta bagaimana wacana-wacana ilmiah (wacana orientalis) telah
melegitimasi agresi kaum kolonialis serta supremasi politik dunia barat.
Edward Said mengemukakan bahwa
Orientalisme berkaitan dengan tiga fenomena yang saling berkaitan. Pertama,
seorang orientalis adalah yang mengajarkan, orang yang menulis tentang, atau
meneliti dunia timur. Baik ia seorang Antropolog, Sosiolog, Sejarawan atau
filolog. Orientalis adalah ahli ataw ilmuan Barat yang mengklaim memiliki ilmu
pengetahuan dan otoritas ilmiah untuk memahami budaya Timur. Kedua,
Orientalisme mengacu pada perbedaan dua model pemikiran yang didasarkan pada
Ontologi dan Epistemologi yang berbeda. Ketiga. Orientalisme dapat dilihat
sebagai institusi yang berbadan hokum untuk menghadapi Timur, menjustifikasi
pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, serta menguasainya. Orientalisme
adalah cara barat untuk mendominasi, merestrukturasi dan menguasai Timur.
B.
Analisis
Teori Poskolonial dalam Cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah”
Analisis
wacana poskolonial bisa digunakan di satu pihak untuk menelusuri aspek-aspek
yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana
kekuasaan itu bekerja. Cerpen berjudul “Tahi
Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar bercerita tentang realita
kehidupan yang dialami di sekitar kita bukan sebuah mitos tapi benar-benar
terjadi dan itu nyata. Cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah karya M.Shoim
Anwar telah mengingatkan kita bahwasanya uang dan jabatan di atas
segalanya.Cerita lurah dalam cerpen ini merupakan realita sebenarnya terjadi
saat ini.Jabatan dan kekuasaan sering dijadikan alat bagi para penguasa untuk
memeras masyarakat kecil, sehingga ada kesenjangan antara penguasa dan
masyarakat kecil.Hak yang seharusnya di dapatkan oleh masyarakat kecil
seringkali disalahgunakan oleh penguasa.Alih-alih membela masyarakat kecil pada
hal kenyataanya adalah memperluas kekayaan para penguasa itu sendiri.
Pak
lurah sebagai pemimpin yang memiliki kekuasaan, orang nomer satu yang dipilih
langsung oleh rakyat di wilayah pedesaan. Setelah cerai dengan istrinya, pak
lurah menikah lagi dengan wanita yang dulunya seorang sinden dan ada yang
bilang dia penyanyi elekton. Di dada istri pak lurah ada tahi lalatnya, itulah
kabar yang menyebar seperti wabah: merambat, menjalar, dan mengalir bersama
angin. Pak lurah adalah pemimpin yang sering menggunakan cara-cara kotor dan
menjijikkan. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah
ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah.Teori poskolonial sangat relevan
dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang
ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya:
politik, ideologi, agama, pendidikan, bahasa dan sastra, sekaligus dengan
bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk,
pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain. Dalam hal ini
penulis akan melakukan penganalisisan berdasarkan pendekatan poskolonialisme,
diantaranya: hegemoni kuasa dan oposisi biner, yang merupakan poin dari
pendekatan poskolonialisme.
Pada
cerpen berjudul “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar,
hegemoni kuasa merupakan suatu bentuk kekaisaran yang mengendalikan
rakyat-rakyat dengan kekuasaan yang dapat memaksakan tujuannya.Dalam hal ini
pak lurah memaksakan tujuannya dengan cara mengancam agar rakyat menjual
tanahnya demi mendapatkan keuntungan dari persentase diam-diam antara dia
dengan pihak pembeli. Seperti terdapat pada kutipan:
“Kalau
tidak mau menjual akan dipagari oleh pihak pengembang perumahan.”
“Penduduk
serba khawatir. Setelah berulang kali dipanggil pak lurah ke kantor, mereka
terpaksa melepaskan tanahnya karena batas-batas disekitarnya sudah dimiliki
pihak pengembang perumahan.”
“Sementara
mereka yang bertahan terus didatangiPak Bayan tanpa bosan. Kata-kata pak Bayan
terdengar tanpa emosi, tapi sangat menyakitkan dan beracun di hati para
penduduk.”
“….
Tidak malah mengancam agar rakyat menjual tanahnya. Itu cara-cara kompeni.”
“Ada
tersiar berita lagi. Tanah kas desa yang sering dipakai sepak bola para pemuda
kabarnya sudah ditancapi patok-patok oleh pengembang perumahan.”
Berdasarkan
kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa seorang Pak Lurah yang
benar-benar menginginkan tanah warga untuk dijadikan sebagai lahan perumahan
dan otomatis pak lurah mendapatkan keuntungan dari warga yang mau menjual
tanahnya tersebut. Dan penduduk desa merasa
diancam agar mau menjual tanahnya, jika tidak mau menjual,tanah akan dipagari
oleh pihak perumahan. Cara-cara tersebut adalah cara kotor dan menjijikkan demi
mendapatkan keuntungan tersendiri. Banyak penduduk yang bertambah miskin
hidupnya. Sawah dan ladang telah terjual dan tinggal di sepetak yang kini
mereka tempati. Semestinya kehidupan penduduk diperbaiki agar makmur,
diciptakan lapangan kerja baru. Tidak malah mengancam dan membuat penduduk
menjadi miskin. Cara itu termasuk penjajahan = penguasaan = dominasi = pertentangan antara
yang kuat dan lemah.
Pada
cerpen ini juga Terdapat dua biner yaitu penjajah dan dijajah, mengkaji pertentangan antara yang kuat dan lemah, yaitu pak lurah dan penduduknya.Dijelaskan
bahwa penjajah terdapat pada tokoh pak lurah dan pak bayan yang membantu pak
lurah dalam melakukan penjajahan atau penguasaan. Dan yang dijajah adalah
penduduk desa, terbukti dari kutipan yang ada bahwa penduduk desa mau tidak mau
harus menuruti kemauan pak lurah karena adanya ancaman.
Teori atau kritik feminisme merupakan bagian dari poskolonial ketika laki-laki dipandang sebagai
“penjajah” terhadap
perempuan, Disini istri pak lurah terjajah oleh
laki-laki yang mengolok-oloknya.
Daftar Pustaka
Anwar, Shoim. 2017. Tahi
Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:CV Pustaka Ilalang
Lingua. 2015. TEORI POSKOLONIAL EDWARD W. SAID
(diakses tanggal
22 mei 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar