Minggu, 11 Juni 2017

ANALISIS CERPEN “TAHI LALAT DI DADA ISTRI PAK LURAH” KARYA M. SHOIM ANWAR MENGGUNAKAN TEORI POSKOLONIAL


ANALISIS CERPEN “TAHI LALAT DI DADA ISTRI PAK LURAH” KARYA M. SHOIM ANWAR MENGGUNAKAN TEORI POSKOLONIAL
Dosen Pembimbing
Dr. M. Shoim Anwar M.Pd




Oleh :
Nahdiyan Tri Yustia
165200064
PBSI 2016-B





UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017




A.    Teori Poskolonial

Poskolonial “posklonial” merupakan turunan dari kata “kolonial”.Istilah colony dalam bahasa Romawi berarti tanah pertanian atau pemukiman. Istilah ini mengacu pada orang-orang Romawi yang tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi. Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru, sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan Negara asal mereka.
Anthony Appiah mengemukakan tentang adanya persamaan dan perbedaan penggunaan istilah “pasca/pos” pada kedua istilah tersebut, persamaannya adalah pasca/pos sama-sama menaruh perhatian pada persoalan historiografi dan refleksivitas dalam politik representasi cultural, walaupun artikulasi, interpretasi serta penyebaran keduanya memiliki perbedaan. Keduanya juga dianggap memiliki keterkaitan dengan poststrukturalisme dan postmodernisme.
Secara definitive teori postcolonial lahir sesudah kebanyakan Negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya. Teori poskolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Seperti sastra Afrika, Australia, Bangladesh , Canada, Karibia, India, Selandia Baru, Pakistan, Singapura, Sri langka, Malaysia dan Indonesia. Sementara sastra Amerika dinggap sebagai prototype Poskolonial karena sejak abad ke 18 telah mengembangkan konsep sastra Amerika yang dibedakan dengan Sastra Inggris.
Pada tahun 1978, Edward Said menerbitkan bukunya yang berjudul erientalism. Buku ini meahirkan kegerahan dan sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti kurtural studies, kajian wilayah dan secara khusus melahirkan kajian ilmiah yang dilingkungan akademis dikenal dengan analisis diskursus colonial. Gagasan Edwar Said sangat luas, ia membahas tentang berbagai contest local budaya, sehingga disebut juga dengan “travelling teory’. Bukunya yang berjudul power and culture : interviews with Edward Said merupakan perluasan buku orientalism ditambah dengan wawancaranya. Pemikiran Edwar Said diakui oleh kelompok yang mendukung kajian / discourses colonial dan yang menantangnya, talah meninbulkan pengaruh yangluar biasa bagi analisis kolonialisme dan pemikiran colonial. Lapangan penelitian baru yang dirintis oleh Edward Said dilingkungan dunia akademis, kemudian dikenal dengan teory pascacolonial (postcolonial theory).
Edward Said merasa mendapat manfaat yang besar dari pengalaman hidupnya di Palestina, pendidikannya serta berbagai perbincangannya mengenai budaya dan politik yang akhirnya dapat ia jdikan sebagai inventory yang memperluas gagasannya dan menumbuhkan kesadaran kritis dan humanis. Theory poscolonial muncul sebagai oposisi dari teori kolonoal, yang sering diidentikkan dengan oposisi biner dari colonial atau oksidental. Oksidentalisme (barat) sebagai ikon Negara colonial (penjajah), sedangkan oriental atau timur sebagai Negara-negara yang dijajah (discolonisasi). Istilah orientalisme menurut Edward Said dapat didefinisikan dengan tiga cara yang berbeda.
1.      Memandan orientalisme sebagai mode atau paradigma berpikir epistemology dihasilkan (dikonstruksi) oleh bentuk tertentu kekuasaan dan pengetahuan colonial.
2.      Orientalisme dapat juga dipahami sebagai gelar akademis untuk menggambarkan serangkaian lembaga, vdisiplin dan kegiatan ilmiah terdapat pada universitas barat yang peduli pada kajian masyarakat dan kebudayaan masyarakat timur.
3.      Melihat orientalisme sebagai lembaa resmi yang pada hakikaya peduli pada timur.
Menurut Said, orientalisme pada awalnya muncul dalam kristianitas sebagai konsep pentin misionaris dan control mereka pada yang lain melalui pengetahuan. Suatu discoursus dimana konsep kepentingan, kekuasaan dengan pengetahun melebur, pandangan ini akhirnya meruntuhkan konsep epistimologi pondasional (positipis) terutama tentang ilmu bebas nilai. Orientalisme adalah kultur timur sebagai hal yang kontras dengan kultur barat. Apa yang disebut sebagai esensi timur adalah objek discoursus colonial yang berlawanan dengan barat yang tidak terlepas dari pengaruh kuasa dan pengetahuan.
Edward Said merasakan bagaimana rakyat Palestina yang terjajah dan kesetiaannya pada Palestina. Ketajaman analisisnya berhasil menyingkap teori pasca colonial yang semula terpokus pada masalah colonialism, kemudian melebar memasuki dunia ilmiah. Said mengemukakan arti orientalisme dalam tiga wilayah yang saling tumpang tindih.
  1. Orientalisme menciptakan sejarah pahit yang panjang hubungan antara Eropa dan Asia Afrika.
  2. Hal ini juga menciptakan bidang-bidang ilmu yang sejak awal abad ke 19 sebagai spesialis dalam bahasa dan kebudayaan oriental.
  3. Colonialisme menciptakan stereotype – stereotype dan dan ideology tentang “the orient” yang diidentikkan dengan “The Other” atau yang lain “ The Occident” (the self).

Dalam buku Orientalisme, said menunjukkan bagaimana imaji barat tentang Timur, dan bagaimana kuasa dan pengetahuan saling kait-mengait dalam tulisan-tulisan kaum orientalis. Dalam essainya, the world, the text, and the critic, said melakukan penelitian dan menyingkap tentang keterkaitan teks dengan konteks atau ‘keduniawian’ teks. Anggapan tentang objektivisme teks atau penafsiran objektif sebenarnya mengabaikan hubungan antara teks dengan konteks.
Pada bagian penutup buku orientalisme yang diterbitkan ulang tahun 1995 ini pula, Edward Said mengemukakan bahwa hadirnya revolusi kesadaran yang luar biasa dalam kesadaran kaum perempuan, kaum minoritas, serta golongan marjinal berpengaruh secara langsung pada pemikiran mainstream di seluruh dunia. Tampilanya kajian orientalisme ternyata begitu dramatis, sehingga menyedot perhatian semua orang yang secara serius peduli dengan kajian budaya yang teoritis dan ilmiah. Seperti Said Edward Sapir membongkar epistemology orientalisme sambil membuka pintu poskolonial (isme) ; konsep wacana Foucault, serta sastra sebagai medium pembaruan moral dari Gramsci digunakan untuk mengungkapkan ideologi-ideologi kelompok sosial..
Teori pascakolonial Edward Said yang dikemukakan melalui bukunya Orientalisme: western conception of the Orient dan Cultural and Imperialisme telah menggoncangkan pemikiran dunia. said menggulirkan kritik pedas terhadap pandangan, konsep dan konstruksi ahli barat tentang Timur. Serta bagaimana wacana-wacana ilmiah (wacana orientalis) telah melegitimasi agresi kaum kolonialis serta supremasi politik dunia barat.
Edward Said mengemukakan bahwa Orientalisme berkaitan dengan tiga fenomena yang saling berkaitan. Pertama, seorang orientalis adalah yang mengajarkan, orang yang menulis tentang, atau meneliti dunia timur. Baik ia seorang Antropolog, Sosiolog, Sejarawan atau filolog. Orientalis adalah ahli ataw ilmuan Barat yang mengklaim memiliki ilmu pengetahuan dan otoritas ilmiah untuk memahami budaya Timur. Kedua, Orientalisme mengacu pada perbedaan dua model pemikiran yang didasarkan pada Ontologi dan Epistemologi yang berbeda. Ketiga. Orientalisme dapat dilihat sebagai institusi yang berbadan hokum untuk menghadapi Timur, menjustifikasi pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, serta menguasainya. Orientalisme adalah cara barat untuk mendominasi, merestrukturasi dan menguasai Timur.
B.     Analisis Teori Poskolonial dalam Cerpen “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah”
Analisis wacana poskolonial bisa digunakan di satu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja. Cerpen berjudul “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar bercerita tentang realita kehidupan yang dialami di sekitar kita bukan sebuah mitos tapi benar-benar terjadi dan itu nyata. Cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah karya M.Shoim Anwar telah mengingatkan kita bahwasanya uang dan jabatan di atas segalanya.Cerita lurah dalam cerpen ini merupakan realita sebenarnya terjadi saat ini.Jabatan dan kekuasaan sering dijadikan alat bagi para penguasa untuk memeras masyarakat kecil, sehingga ada kesenjangan antara penguasa dan masyarakat kecil.Hak yang seharusnya di dapatkan oleh masyarakat kecil seringkali disalahgunakan oleh penguasa.Alih-alih membela masyarakat kecil pada hal kenyataanya adalah memperluas kekayaan para penguasa itu sendiri.
Pak lurah sebagai pemimpin yang memiliki kekuasaan, orang nomer satu yang dipilih langsung oleh rakyat di wilayah pedesaan. Setelah cerai dengan istrinya, pak lurah menikah lagi dengan wanita yang dulunya seorang sinden dan ada yang bilang dia penyanyi elekton. Di dada istri pak lurah ada tahi lalatnya, itulah kabar yang menyebar seperti wabah: merambat, menjalar, dan mengalir bersama angin. Pak lurah adalah pemimpin yang sering menggunakan cara-cara kotor dan menjijikkan. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladangnya dan berganti dengan perumahan mewah.Teori poskolonial sangat relevan dalam kaitannya dengan kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan beragam, diantaranya: politik, ideologi, agama, pendidikan, bahasa dan sastra, sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan, seperti perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa, dan berbagai bentuk invasi kultural yang lain. Dalam hal ini penulis akan melakukan penganalisisan berdasarkan pendekatan poskolonialisme, diantaranya: hegemoni kuasa dan oposisi biner, yang merupakan poin dari pendekatan poskolonialisme.
Pada cerpen berjudul “Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar, hegemoni kuasa merupakan suatu bentuk kekaisaran yang mengendalikan rakyat-rakyat dengan kekuasaan yang dapat memaksakan tujuannya.Dalam hal ini pak lurah memaksakan tujuannya dengan cara mengancam agar rakyat menjual tanahnya demi mendapatkan keuntungan dari persentase diam-diam antara dia dengan pihak pembeli. Seperti terdapat pada kutipan:
“Kalau tidak mau menjual akan dipagari oleh pihak pengembang perumahan.”
“Penduduk serba khawatir. Setelah berulang kali dipanggil pak lurah ke kantor, mereka terpaksa melepaskan tanahnya karena batas-batas disekitarnya sudah dimiliki pihak pengembang perumahan.”
“Sementara mereka yang bertahan terus didatangiPak Bayan tanpa bosan. Kata-kata pak Bayan terdengar tanpa emosi, tapi sangat menyakitkan dan beracun di hati para penduduk.”
“…. Tidak malah mengancam agar rakyat menjual tanahnya. Itu cara-cara kompeni.”
“Ada tersiar berita lagi. Tanah kas desa yang sering dipakai sepak bola para pemuda kabarnya sudah ditancapi patok-patok oleh pengembang perumahan.”


Berdasarkan kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa seorang Pak Lurah yang benar-benar menginginkan tanah warga untuk dijadikan sebagai lahan perumahan dan otomatis pak lurah mendapatkan keuntungan dari warga yang mau menjual tanahnya tersebut. Dan penduduk desa merasa diancam agar mau menjual tanahnya, jika tidak mau menjual,tanah akan dipagari oleh pihak perumahan. Cara-cara tersebut adalah cara kotor dan menjijikkan demi mendapatkan keuntungan tersendiri. Banyak penduduk yang bertambah miskin hidupnya. Sawah dan ladang telah terjual dan tinggal di sepetak yang kini mereka tempati. Semestinya kehidupan penduduk diperbaiki agar makmur, diciptakan lapangan kerja baru. Tidak malah mengancam dan membuat penduduk menjadi miskin. Cara itu termasuk penjajahan = penguasaan = dominasi = pertentangan antara yang kuat dan lemah.
Pada cerpen ini juga Terdapat dua biner yaitu penjajah dan dijajah, mengkaji pertentangan antara yang kuat dan lemah, yaitu pak lurah dan penduduknya.Dijelaskan bahwa penjajah terdapat pada tokoh pak lurah dan pak bayan yang membantu pak lurah dalam melakukan penjajahan atau penguasaan. Dan yang dijajah adalah penduduk desa, terbukti dari kutipan yang ada bahwa penduduk desa mau tidak mau harus menuruti kemauan pak lurah karena adanya ancaman.
Teori atau kritik feminisme  merupakan bagian dari  poskolonial  ketika laki-laki dipandang sebagai “penjajah terhadap perempuan, Disini istri pak lurah terjajah oleh laki-laki yang mengolok-oloknya.







Daftar Pustaka
      Anwar, Shoim. 2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:CV Pustaka Ilalang

Lingua. 2015.  TEORI POSKOLONIAL EDWARD W. SAID

(diakses tanggal 22 mei 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar